- Home »
- My Real Story
Unknown
On Selasa, 29 Januari 2013
Hii
guy’s ,, kesempatan kali ini akan aku pergunakan untuk bercerita mengenai
pengalamanku, lebih tepatnya pengalaman teman mengenai hal yang tak bisa
diterima akal sehat J meski hanya mendengar gosip akan
saya tulis ulang hingga menjadi kejadian yang cukup menarik untuk
diperbincangkan (¬,¬ ) dengan sedikit modifikasi diendingnya. Trims
Hari itu hari selasa, kukenakan baju
warna putih biru saat masih smp DULU !!! . 5 menit lagi bel pelajaran pertama
akan dibunyikan --- seperti biasa aku bisa dikategorikan anak yang sering
telat, jadi aku agak menekankan kakiku untukcbergerak lebih cepat daripada
biasanya agar terhindah dari punishment.
Well kelas terisi penuh oleh ocehan teman
- teman, hari itu lumayan cerah padahal jam pertama pelajaran matematika ---
salah satu dari 3 pelajaran yang paling aku benci. Menit demi jam lagi-lagi
terlewati dengan boring.
Waktu bergilir kepelajaran bahasa
indonesia, ketuakelas datang kembali kekelas setelah pergi ke ruang guru.
rupannya dewi fortuna masih merangkul erat pundaku, bisa dibilang begitu
bahwasanya pelajaran kedua masih kosong.
“ Masih hoki nih, guru masih repot
jadi meneruskan tugas wawancara dengan narasumber, cari topik telebih dulu,” katanya
menyampaikan pesan dari Bu Guru Bahsa Indonesia.
“ Apa ke perpustakaan diizinkan ?”
“ Boleh, asal ga ada yang tahu,”
sangkal salah satu teman.
Hawa dingin menusuk tulang begitu
membuka pintu perpustakaan dengan ac masih menyala. Buku – buku tertata begitu
rapihnya dengan berbagai kategori, ada yang tebal ada juga yang tipis, tapi
lebih didominasi dengan buku tebal, kebanyakan anak pasti akan malas membaca
buku referensi atau semacam sejarah yang setebal itu tapi yang membuatku lebih
malas lagi bukan karena seberapa tebal buku itu, mungkin karena seberapa kurang
mengasyikkannya pelajaran itu bagiku, hal yang sama juga dirasakan sebagain
temanku, mereka lebih memilih browsing, game dan sebagain tentusaja menggosip,
sudah bisa ditebak kalau para gadis yang sering melakukan hal semacam itu dan
jika biasanya para lelaki tak begitu menanggapi hal semacam itu tapi kali ini
tidak karena menyangkut hal yang berbau supranatural.
“ Terus ? anak itu pingsan donk ?”
jeda salah satu temanku.
“ Jika kamu yang melihatnya ?
mungkin kamu bakal mati seketika !!” jawabnya sinis.
“Ngomong apa sih ?” nada ku bertanya
tanya bersama temen lainya.
Percakapan panjang pun dimulai,
diceritakan kalau cerita kali ini berawal dari hari panas yang membakar, angin
sedikit bertiup, suara pekik komandan upacara terdengar begitu kerasnya. Satu
atau dua orang tumbang pasca tak kuat menahan upacara sudah biasa terjadi, tapi
kali ini ada salah satu yang pingsan dengan cerita yang berbeda. Adik kelasku
yang saat itu masih beberapa hari masuk sekolah terlihat dengan tegak memberi
hormat kepada bendera merah putih, nyanyian indonesia raya terdengar dengan
lembut dan keras.
Saat seperti itulah tak jarang dari
teman-teman yang terdiam menghayati ataupun melamun, aku dan temanku begitu
fokus meski satu persatu jatuh untung aku masih bisa menahannya.
“ Krubuukkk kruubukkk krubukkk ,,,”
suara langkah kaki.
“ Ayo !! CEPAATT !!! “ teriak salah
satu anggota PMR.
“ Sebelah sana”
Korban ketiga terjatuh kali ini
gadis ini satu satunya kandidat yang pingsan dari kelas 1, ketidak sadarannya
menyita perhatian banyak orang, sebagian memilih untuk tetap fokus.
Upacara berakhir, fokus ke ruang
uks.
“Dia
tidak pingsan karena kehabisan tenaga terkena panas matahari, lebih cenderung
ke shock,” menurut perawat.
“
shock ?” kata salah satu anggota pria yang bertanya tannya.
Kemudian
dia terbangun beberapa menit setelah pingsan. Nafasnya masih begitu teregeh-egeh,
perawat menyuruhnya untuk menarik nafas dan sedikit meneguk air putih sambil
menenangkan diri.
“
sudah mendingan ? mau kekelas atau istirahat disini dulu ?” pintannya dengan
senyum dan suara yang halus.
Tak mau membuang tenaga rupannya
gadis itu lebih memilih untuk beristirahat sejenak dan bercerita yang dia
lihat.
“Tolong ibu disini agak lebih lama
lagi ya bu !” pintanya halus.
“ kenapa ?” suaranya lembut.
“ Tadi sewaktu penarikan bendera
bersamaan dengan dinyanyikannya lagu, tadiii ,,,,” seolah terbatah ia menunda
perkataannya tapi dengan halus sang perawat hannya bersuara “ ehhem ? “ sebagai
pertanda terukanlah.
“aku
lihat ada sosok lain dibawah tempat bendera, saat itu nampak kejang kejang,”
---sosok yang lebih kita kenal dengan sebutan pocong.
Hening
terjadi begitu lama, lalu tiba tiba perawat yang semula mendengarkannya dengan
seksama berubah ke raut lain, dia tersenyum dan berkata.
“
Ibu tahu, dia ada disini !”