.

Popular posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Category

Something

Unknown On Selasa, 29 Januari 2013





Kali ini aku bakal nyeritain pengalaman bunga tidur aku, terkadang klau habis nonton film suka kebawa mimpi, dan postingan kali ini jangan dianggap nyata, karena cuma sebatas mimpi, lets read ,,,
Tumbuhan dipot layu. Hari itu suasana terlihat siang meski tak tampak matahari, saat itu kudapati diriku sedang menyiram bunga, aku tidak tahu pasti bunga apa yang kusiram tapi diantara itu semua bunga-bunga telah terlihat layu. Jika biasanya jalanan dan rumahku ramai tapi kali ini terlihat sepi, bahkan anginpun tak bergerak.
“Maa ,,”
“Maa , ,” panggilku terus.
Namun tiada jawaban sama sekali lalu ku hentikan menyiram bunga, kakiku yang tak beralaskan apapun mulai menelusuri dalam rumah. Kali itu rumah terlihat gelap, kutengok jam dengan ajaibnya waktu sudah menunjukan pukul 17.00 WIB, seolah bukan sesuatu yang mengherankan bagiku jika waktu bergerak secepat itu kulanjutkan pencarianku begitu saja. 

Kemana mereka pergi ? tak mungkin mereka pergi dengan sendiri. Mataku masi menengok keberbagai arah untuk menelusuri keberadaan mereka tapi saat aku masuk ke ruang tamu aku tidak pernah mengingat ada pintu kayu disamping sofa kuningku. Dengan tanpa pikir panjang aku membukannya tanpa ragu, ruapanya pintu tadi langsung menuju ke halaman depan tempat aku menyiram bunga tadi.
Aku benar-benar yakin jika didalam rumah telah sepenuhnya kosong, hanya ada satu pikiran dibenakku, mungkin mereka pergi ke hutan depan rumah. Rumahku terletak dipedesaan tepat didepan jalan menuju hutan, aku masuk begitu saja didalam sana terlihat begitu gelap, apalagi tanpa berbekal apapun. Tidak dapat dipungkiri, aku merasa takut saat itu.
“Hey ,,,”
“ Stttt ,,,” jawabnya singkat dengan menunjukan isyarat untuk diam.
Untung aku bertemu dengan empat anak ini, aku tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan tapi yang jelas kehadiran mereka sedikit mengurangi rasa takutku. Kulihat mereka mengenakan baju yang sama berwarna hitam tapi untuk satu orang gadi itu dia nampak berbeda, dia mengenakan baju kuning yang tampak menyolok dengan hot pants warna biru tua, kesamaan dari mereka semua yakni tiada yang tidak membawa senjata baik itu panah maupun golok.
Gerak gerik mereka nampak aneh, mereka terlihat mengintip kearah selatan (kalo tidak salah) melewati pepohonan yang rindang yang menambahnya makin gelap. Lalu aku putuskan untuk berinteraksi.  
“ Apa yang kamu lakuin disini ?” aku kebingungan.
“ Kau tidakn perlu tahu apa-apa” jawab gadis itu sambil menoleh kearahku.
“ Dari mana asalmu ?” tannya salah satu pria.
“Aku dari sana ,,, “ sambil menunjuk kearah rumah, tapi anehnya rumahku sudah tak terlihat lagi, padahal aku yakin jika aku baru saja melangkah tak jauh dari rumah keanehan ini mulai membuatku terheran heran.
“Ayo ,,,” sambil menggerakan tangannya mereka mulai melangkahkan kakinya.
“Kemana ?” Selaku.
Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab mereka lebih memilih untuk terus berjalan dan menghiraukanku begitu saja. Aku membuat keputusan cepat untuk mengikuti mereka saja, daripada sendiri didalam hutan yang gelap.
Setting waktu berganti tengah malam, ada sebagian hutan yang terlihat begitu gelap tapi ada bagian yang masih bisa terjamah oleh mata manusia, aku tengok keatas rupannya bulan telah muncul. Baju yang kukenakan sudah sangat kotor, untungnya aku tidak mera kedinginan meski malam telah tiba, ditambah lagi kami sedang berjalan disungai, jika bukan sungai semacam rawa rawa, penuh lumpur.
Rawa ini terlihat berukuran sedang, ada pepohonan disekeliling air yang tenang tampak mengitari bagian kiri rawa,
Lumpur itu bergerak, aku rasakan lumpur itu benar benar bergerak.
“ AAAAaaaa ,,,,” jerit salah seorang dari kami.
Aku terlalu sibuk memandang kearah bawah hingga tidak memperhatikan sekeliling.
“Tolonggg,,, arrghh ,, “ teriaknya histeris.
 Alangkah terkejutnya ketikaku lihat ada buaya seukuran dua kali truk sedang menggigit gadis yang tadinya berjalan didepanku dan buaya itulah yang menjadi pijakan kami saat itu. Darah bercucuran, dia berteriak keras, tapi tak ada daya yang berarti yang bisa kami lakukan. Aku sangat ketakutan saat itu, jantung tiada hentinya memompa untuk berdetak.
Kami putuskan untuk lari. buaya itu terlalu besar dan dengan mudah ekornya menyabit kami. Berkali kali harus terjatuh dan bangun kembali untuk berlari kearah semula  .tak bannyak yang bisa lolos hanya dua orang, sudah bisa ditebak kalo salah satu dari dua orang itu adalah aku.
Akhirnya kami berhasil lolos dan bersembunyi diatas semacam atas tebing yang tidak curam tapi cukup untuk menyembunyikan kami, apalagi ini malam, pikirku. kutengok kearah temanku, dia sudah teluka sangat parah. Seolah tak ingin salah satu dari kami hidup tiba-tiba terdengar suara pekik yang menyayat gendang telinga, ku tengok kearah bawah. Ada binatang lain yang penampilannya mirip dengan burung unta tapi bukan burung unta, warnannya putih dan hitam diperut dan sayap, cakarnya sangat tajam begitu pula dengan paruhnya yang berwarna orange dengan sedikit noda darah menetes, mereka sedang memakan mangsa mereka.
Seakan mendapat wangsit aku tahu mereka akan mengejar kami, lalu aku putuskan untuk mengajak temanku untuk berlari meski aku tahu dia terluka parah.
“Ayoo ,, lariii !!! cepeettt,,” ajakku sambil menoleh kebelakang memastikan.
Dan dugaanku benar, mereka sudah terlihat berlarian menuju kearah kami, aku sangat takut lalu aku berlari, kurasa temanku mengikutiku dari belakang diikuti burung burung aneh itu. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi kutengok kearah belakang, temanku telah hilang. Aku terus mengayuhkan kakiku.
Aku terjatuh dan dengan sekejap burung itu sudah ada didepanku siap mematuk. Jantungku berdentum, pikiran menebak nebak apa yang bakal terjadi, keringat bercucuran dan saat gerakan paruh mereka bersiap untuk mematukku,

Aku terbangun .      

{ 2 komentar... read them below or Comment }