.

Popular posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Category

Something

Unknown On Sabtu, 16 Maret 2013



Hey guy’s, cerita horor. Seberapa sering kalian mendengar cerita horror ? atau seberapa suka kalian dengan hal yang berbau horror ? sebagai penggemar sesuatu yang berbau mistis kali ini aku akan meceritakan salah satu pengalaman horror pribadi saya ( based on true story) yang benar benar saya alami ( apakah begitu ? tentunya setiap pandangan berbeda). Baca seksama lumayan buat referensi cerita atau setidaknnya contoh cerpenlah .

Dear Diary February 21
            Cahaya laptopku masih menyala kala sore itu. Aku mengambil handuk kuningku yang aku sampirkan di atas kipas angin berwarna biru dipojok kamar tidurku, dekat dengan almari tua yang jika siang hampir tak pernah terkena sinar matahari lagi. Meski sudah bukan hal baru lagi jika mendapati kamar tidurku berantakan tapi kali ini bisa dikatakan yang paling parah selama dua bulan kedepan ini. Selimut dan buku komikku berserakan menjadi satu, debu dimeja mulai menebal dan menggelitik hidung siapapun yang mengendusnya.
            “ Tom, ayo cepat mandi sudah sore !! mauku guyur lagi ?” kicauan mami aku.
            “ air hangatnya sudah siap” tambahnya.
            “ Yaaa sebentar” jawabku dengan keras berusaha menyaingi.
            Hal itu selalu terjadi bila aku telat mandi, apalagi saat itu hujan begitu deras disertai angin, makin malas untuk mandi.
            Air yang kuteguk cukup hangat untuk menghangatkan badan. Hujan tak berhenti, lantas aku kebingungan mau menjemur handuk yang baru aku pakai kemana, lalu aku putuskan untuk berjalan kebelakang sembari mencari tempat menjemur. tepat setelah berjalan beberapa menit, sejenak ku letakkan handukku di tali dengan ujung yang mengikat di antara tiang penyangga dan disela sela jendela.
            Mataku tercuri dikorden yang dipasang sebagai penutup kaca jendela, film horor tadi masih sangat membekas pikiranku, saat bayangan raksasa terlintas dikorden dan memegang pundak tokoh utama lalu menghilang saat ditolehnya dan kembali muncul saat nafas lega terhembus, aku tidak mau terus mengingat hal seperti itu, meski saya tahu jika aku termasuk penggemar film horor, tapi aku masih punya ketertakutan terhadap hal supranatural.
            Aku melangkah untuk memecah bayangan fana yang kulihat tadi. Nenek sedang duduk diperapian dengan tangan yang memegang segelas teh hangat yang ia sedu. Nampaknya malam ini terlalu dingin hingga ia harus mengenakan sweeter coklat yang jelas sekali jarang ia kenakan. Aku tidak mau terlalu fokus terhadap nenekku. Pukul 20.00 lewat. waktu selalu berjalan begitu cepat bila digunakan untuk hal yang mengasyikan dan melambat saat hal membosankan datang.
Leherku tak berhenti selalu menoleh ke arah jam dinding berkali kali, setiap bait kali yang kubaca dari buku pelajaranku seakan mendendangkan lagu penghantar tidur. Mataku tetap fokus meski seringkali seluruh hurup yang kulihatb berubah jadi hitam pekat.
“ Braaakkkk ,,, “
Suara dentuman barang terdengar dengan keras dan akupun tak luput dari rasa kaget. Entah sejak kapan lampu diruang tidurku mati seketika dan ku toleh kearah keluar, ternyata sama saja. Aku mulai meraba raba sekelilingku berharap ada sesuatu yang kugunakan sebagai penerangan saat itu. entah semua barangku kemana yang kudapati hannya handphone ku saja. Lantas aku segera menyalakannya, kurubah pengaturannya ke mode cahaya yang paling terang.
Kubuka pintu kamarku, meski kucoba untuk berjalan selirih mungkin tapi suara decitan pintu kamarku mendahuluiku.
“ nekk ,, nek ?” suaraku seraya merambat selirih mungkin.
Tak bisa dipungkiri saat itu aku benar benar merasakan jantungku terpompa begitu kerasnya hingga tanganku tak kusadari juga ikut bergetar.
Dentuman keras kembali terjadi, arahnya dari belakang kamarku jauh kedalam. Entah suara apa itu tapi aku lekas berlari menyusuri ruangan yang jelas ku tahu suaranya bersumber dari dapur. Aku teringat beberapa jam yang lalu nenek sedang duduk disitu, aku takut ada sesuatu buruk yang terjadi. Dengan pencahayaan yang minim kudapat tak jarang langkahku terhambat.
Angin dingin menusuk kulit, meski dapur tak begitu luas, gelap malam seakan menyamarkannya begitu saja, cahaya ponselku pun sedikit demi sedikit mulai redup, aku rasa batrainya mulai habis. Sejauh memandang yang terdapat hannya kursi tua dan perlengkapan memasak lainnya serta pintu coklat yang tembus ke halaman belakang apabila dibuka.
Satu satunya hal yang terfikir diotakku, mungkin suara itu bersumber dari luar. Rasa penasaranku sangat menggebu ditambah lagi, hannya diluar satu satunya tempat yang belumku jelajahi mencari keberadaan suara itu. kernel pintu yang kupegang tersa sangat dingin ditambah lagi hembusan angin yang entah melalui celah mana ikut menerpa. Pelan pelanku putar dan terbukalah pintu itu, kudorong keluar sambil menghela nafas dan kuteguk liur yang sedari tadi mengganjal, kulangkahkan kaki pertamaku kehalaman belakang yang semakin gelap gulita. Hujan rupanya sudah berhenti, dan tergantikan angin kencang yang lagi lagi dan tiba tiba datang. Sesuatu yang lembut menyergap mukaku, dengan panik aku menjerit “ arrghh ,,, “. Tangan ku coba menggapai benda yang sedang menyergap mukaku ini dan alangkah legannya aku kudapati hannya sebuah plastik, hembusan napas menjadi isyarat lega.
Aku merunduk untuk mengambil ponselku yang terjatuh karena kejadian tadi. ku ambil ponselku tadi sambil sedikit jongkok. Tiba tiba ,,,,,,,,,,,,
TANGAN BERKUKU TAJAM ITU MENNYENTUHKU
            Kucoba melawan detak jantung, bersamaan rasa ingin tahu untuk membuktikan aku salah mengenai dugaan dugaan diotak, lalu ku toleh begitu saja. Matannya merah, senyumnya seakan terpaksa dengan semua gigi taringnya yang bersimbah darah. Tangannya begitu besar sekitar 3 kali ukuran manusia biasa. Seburuk apapun ia dibayangan anda ! jelas tulisan ini tidak bisa mendiskripsikan apa yang kulihat.
            Aku mencoba menghempaskan tangannya yang besar ! dan oh tuhan. Aku berhasil. Kupijakkan kaki telanjangku keras, berlarian entah kemana. Rumah yang tadinnya berjarak tigalangkah dari kakiku menghilang entah dimana. Aku begitu takut. Tapi apa yang bisa ku lakukan selain berlari ? jawabnya tiada ! kecuali kakiku sudah tidak kuat lagi berpijak dan  satuhal yang tidak terduga. Mahluk itu sudah berhasil meraih kakiku. Entah sejak kapan ia berlari tapi dengan sukses kurasa dia sudah berhasil membuatku ketakutan setengah mati. Aku tak berani menatapnnya langsung !
Untungnnya semua kejadian ini cepat berlalu saatku toleh jam menunjukan pukul 23.00 malam. Rupannya pukul jam 20.00 lalu aku sudah tertidur ,,,,

Kalian paham maksudnya ?

{ 1 komentar... read them below or add one }